Rabu, 20 Januari 2016

Cerpen: Empat Kaki Meja Darussalam-Kunir



Empat kaki Meja Di Pondok Modern
Oleh: Muhamad Lutfi Ulinuha
Mahasiswa IAIN Surakarta, Komunikasi Penyiaran Islam (KPI)
Tak terasa umurku menginjak 12 tahun, saatnya aku harus mengalami masa peralihan dari bangku Sekolah Dasar (SD) ke sekolah jenjang yang lebih tinggi setelah aku lulus dibangku SD nanti. keinginanku untuk masuk sekolah favorit nampaknya terkuburlah sudah karna tidak diberi ijin oleh kedua orang tua selama ini, beribu alasan aku lontarkan kepada ke dua orang tua, tapi tidak membuat ketetapan orang tua berubah. dari aku kecil orang tua mempunyai keinginan anaknya untuk bisa belajar di suatu lembaga yang berbasis Islamic Boarding School.mungkin sekarang saatnya aku harus bisa memenuhi keinginan ayah dan ibu untuk masuk ke pondok modern walaupun ada sedikit keterpaksaan dalam hati.
Aku harus bisa melupakan harapan aku untuk masuk SMP favorit yang harus digusur oleh keinginan orang tua yang memaksa aku untuk mausk ke pondok modern. dan.kini saatnya aku harus mukim di pondok modern yang menurut aku ini adalah dunia baru yang asing yang hadir dalam kehidupan baruku, dimana aku harus belajar berkehidupan mandiri yang selalu menjalankan aktifitas sendiri tanpa bantuan orang tua dan siapapun.dari mulai makan, nyuci dan tidur sekalipun harus aku jalankan dengan sendiri. tapi tidak apa-apalah walaupun jauh dari orang tua justru aku merasa nyaman hidup di pondok modern sekarang karna mempunyai banyak teman yang selalu menemani dan menghibur hidupku di pondok ini dengan setulus hati.
Walaupun aku sudah ikhlas dan menerima kenyataan hidup dipondok tapi terasa hati ini merasa ada satu hal yang mengganjal.mungkin sifat anak mamiku masih tersimpan saat ini sehingga rasa kangen dan rindu kepada orang tuapun selalu membanjiri bayang-bayangku saat ini. terkadang aku suka menyendiri diatas jemuran sembari menangis karna jauh dari orang tua, disinilah Tuhan mengutus malaikat untuk menghibur aku yang sedang meratap menangis diatas jemuran berupa hujud manusia yaitu Rival. diapun menghampiriku dan berkata “kenapa kamu, ko malam-malam gini menyendiri di jemuran”, “aku sedih jauh dari orang tua” jawab aku sambil mengelus-elus air mata di pipiku”, “ya, sudah gimana kalau kita curhat dikamar ajah untuk menyelesaikan masalah ini. oh, yah lupa. nama kamu siapa?...” tanya orang yang menghampiriku sembari mengulurkan tangan kananya dihadapanku “nama aku Dika, dan nama kamu siapa?... “nama aku Rival ,aku juga santri baru loh sama seperti kamu”. disinilah rasa percaya diri aku mulai tumbuh setelah mendapatkan teman baru yang bernama Rival, setelah Rival membujuk aku dari Jemuran Rivalipun membawa aku ke kamar untuk curhat sekedar pendekatan. sehabis itu Rival juga mengenalkan aku dengan kedua temanya yaitu Rana dan Jodi. dan bersyukurlah aku bisa mempunyai teman baru seperti Rival yang bisa melahirkan kepercayaan diri dalam hidup  aku dipondok modern ini dan juga mengenalkan dengan kedua temanya kepadaku supaya aku mempunyai banyak teman dan tidak kesepian lagi.
Sekarang aku, Rival, Rana dan Jodi udah bisa menjalin hubungan persahabatan erat yang penuh dengan solidaritas yang tinggi dimana terasa seperti keluarga sendiri, persahabatan kitapun mempunyai sembohyan bagaikan empat kaki meja yang tidak bisa dipisahkan sampai kapanpun dimana akan cacat persahabatannya apabila ada satu orang yang pergi dari meja persahabatan ini. solidaritas kita semakin terjalin erat selama duduk di bangku kelas 1 KMI pondok modern, disinilah terjalin begitu amat kompak dalam hal kebaikan dalam menjalankan kegiatan dipondok, kita selalu mengingatkan kepada salah satu sahabat kita yang malas dalam hal kebaikan yang diantaranya kita selalu hadir tepat waktu dimanapun dan kapanpun kegiatan rutinitas pondok dilaksanakan seperti sekolah, sembahyang, mengaji dan lainya.sehingga akupun mempunyai inisiatif bahwasanya persahabatan ini dinamai dengan nama empat kaki meja yang selalu menjungjung erat meja persahabatan. sebelum kami meresmikan nama suci ini kami bersumpah untuk selamanya menopang meja persahabatan ini sampai akhir hayat nanti, dan berjanji pula jikalau kami tidak menjaga solidaritas ini maka meja persahabatan ini tergoyang dan tidak sempurna, kendati demikianmeja tidak bisa berdiri dalam satu kaki, meja tidak bisa berdiri dalam dua kaki dan meja hanya bisa berdiri dengan empat kaki
Empat kaki meja terdiri dari empat orang yang masing-masing mempunyai kepribadian tersendiri sebut saja Aku, teman-teman menilai aku adalah orang yang paling malas diantara teman lainya sehingga karna kemalesanya aku sering terkena hukuman pengurus setiap malemnya ketika  pengikhoban (hukuman) yang dilakukan oleh para mudhabir (pengurus), ketidak kompakanya aku dalam persahabatan membuat teman-teman harus sabar menghadapi sikap aku yang kurang solidaritas di dalam persahabatan ini, teman-teman takut jikalau meja ini hilang satu kaki sehingga meja persahabatan ini berdiri dengan satu kaki. bersyukur teman-teman bisa ngertiin aku yang mempunyai sifat egois ini. dalam diri aku juga mempunyai prinsip bahwasanya teman itu adalah lebih dari segalanya dibandingkan yang lainya dan akupun berpikir tidak boleh terus terus-terusan begini dan harus bisa merubah sikap aku dan bisa ngertiin mereka.
Sosok pemersatu pilar Empat Kaki Meja yaitu Rival yang mempunyai sosok religious diantara teman- teman lainya, sehingga dia selalu menjadi pelopor pembangkit kami dikala kami selalu lengah dengan kegiatan dipondok ini. diantara teman-teman yang lainnya Rival adalah sosok yang sempurna dan mempunyai berbagai bakat yang tersimpan dalam dirinya sampai-sampai berkat kepintaranya Rival selalu mendapatkan juara kelas setiap tahunya.dialah Kaki Meja yang paling kuat dalam menopang persahabatan ini solidaritasRival sangat tinggi sehingga pengorbanan dia sangatlah banyak untuk persahabatan ini. Aku pernah dengar dia mempunyai prinsip bahwasanya “tanpa teman aku hampa, dan berkat teman aku bisa” itulah yang dikatakan Rival sewaktu curhat dijemuran pertama kali kenal dulu.
Teman aku yang ketiga yaitu Rana yang mempunyai sifat penghibur dan sangat asyik orangnya.Rana selalu ceria disaat suka maupun duka bersama kami berempat. karna keceriaan Rana akupun merasa enak dan terhibur disaat bersama Rana. tidak bisa membayangkan aku mempunyai teman seperti rana yang bagi aku Rana adalah sosok teman yang paling asyik yang pernah aku temui sepanjang hidup aku.
Tidak lupa aku mempunyai sosok teman yang satu ini yaitu Jodi, sedih rasanya disaat mendengar cerita hidup Jodi.ya Tuhan dia mempunyai semangat tinggi untuk sekolah walaupun dia bukan orang yang terlahir dari kalangan atas, aku tidak bisa membayangkan kehidupan Jodi yang jauh dari kata cukup dari segi ekonominya, ayah Jodi hanya sebatas tukang becak yang penghasilanya terkadang tidak mencukupi untuk biaya Jodi juga keluarganya.yang membuat hati ini menaangis yaitu ketika mendengar cerita ibu Jodi yang terkena penyakit struk yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa terdiam diatas ranjang, ibu Jodi sudah lama terkena struk yang menyerang kakinya, pernah ibu Jodi sesekali dirawat di Rumah Sakit. tapi hal itu tak kunjung sembuh juga dan akhirnya karna keterbatasan biaya ibu Jodi hanya bisa dirawat dirumah. ya Tuhan berilah Jodi kesabaran untuk menjalankan hidupnya dipondok ini. Aku salut sama ayah Jodi yang mempunyai semangat hidup tinggi yang mempunyai cita-cita ingin mensekolahkan Jodi setinggi mungkin, sampai-sampai ayah Jodi rela menjual rumah satu-satunya demi mensekolahkan Jodi di pondok modern dan sekarang ayah dan ibu Jodi tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir rel kereta.
Terkadang Jodi mengeluh dengan keadaan ekonomi keluarganya, dia juga merasa malu sama teman-teman dipondok yang terkadang ada ajah yang membuli Jodi sebagai anak miskin, kamipun merasa sakit hati melihat Jodi sebagai sahabat sendiri di lecehkan sama teman-teman dengan perkataan miskin. kami selalu memberi semangat pada Jodi supaya tetap sabar menghadapi semua cobaan ini.
Jodi tidak kuat terus-terusan begini yang hidupnya selalu di hina dan hina oleh teman-temanya, seketika Jodi selalu menyendiri dan jarang keliatan gabung bersama kami, dia mempunyai pikiran “orang tuaku boleh miskin tapi hidup aku dipondok ini tidak boleh kelihatan miskin” dengan mempunyai pikiran seperti itu jodipun bertindak hal-hal yang dilarang oleh agama juga undang-undang yaitu mencuri. semenjak Jodi selalu dihina oleh teman-temanya Jodi selalu bertindak mencuri uang teman-teman asramanya, tindakan Jodi tidak satu kali, dua kali dia lakukan bahkan berkali-kali Jodi melakukan hal yang dilarang itu supaya Jodi kelihatan seperti orang kaya didepan teman-temanya dari hasil uang curian itu (ghosob).kamipun merasa aneh dengan kelakuan Jodi yang seperti itu dan tidak seperti biasanya, kami curiga dengan kebiasaan Jodi berkelakuan mewah selama ini bahkan kami selalu di teraktir makan sama Jodi padahal kami tau Jodi itu orang yang tidak punya dari segi ekonomi untuk mentraktir kami bertiga. aku adalah orang yang paling curiga sama tindakan Jodi selama ini dan sewaktu ketika ada anak yang kehilangan uangnya yang disimpan didalam lemarinya akhirnya kami mencurigai bahwasanya Jodi yang mengambil uang anak itu. kami tidak bisa membiarkan Jodi terus-terusan bertindak seperti ini. dengan sedih hati kami melaporkan tindakan Jodi kepada pengurus, Jodi langsung disidang oleh pengurus dan dilaporkan kepada Bapak Pengasuh. Bapak Pengasuh memutuskan untuk memanggil orang tua Jodi yang datang yaitu bapaknya menghadap Bapak Pengasuh.keputusan Bapak Pengasuh dihadapan Jodi dan ayahnya memutuskan bahwasanya Jodi dikeluarkan dari pondok ini. ayah Jodi tidak menerima kenyataan ini dan menampar muka Jodi “ayah tidak nyangka kamu seperti ini. inget nak, semiskin-miskinya kita. ayah masih mampu membiayai kamu sekolah dipondok ini. jerih payah ayah bekerja untuk membiayai kamu tapi kamu telah mengecewakan ayah, ayah kecewa sama kamu”.
kami tidak nyangka dengan kenyataan ini yang harus kehilangan satu sahabat kaki meja, kami langsung berlali untuk memeluk Jodi didetik-detik terakakhir ini. “maafkan aku teman-teman yang harus pergi meninggalkan kalian semua, aku pulang dengan tidak hormat teman. aku tidak bisa menjalankan sumpah kita dulu yang akan selalu menopang meja persahabatan ini, aku tidak nyangka aku seperti ini yang akan jauh dari kalian. aku pesan untuk kalian walaupun kini meja persahabatan kita tinggal tiga kaki meja tapi aku yakin meja ini bisa berdiri kokoh dengan solidaritas kalian” kata Jodi dalam tangisanya, “walaupun kamu jauh dari kami, kami akan selalu menganggap kamu sebagai anggota empat kaki meja ini dan tidak akan melupakanmu selamanya” jawab kami sambil memeluk erat Jodi dikala perpisahan terakhirnya.
Kini meja persahabatan ini harus berdiri dengan tiga kaki.dahulu meja ini berdiri dengan empat kaki yang sempurna sekarang meja persahabatan ini patah satu kaki dan harus berdiri cacat dengan tiga kaki. mampukah meja ini berdiri dengan tiga kaki ?....
Tidak terasa tiga tahun telah kita lalui bersama dipondok ini, kenangan dan kebersamaan telah kita lalui bersama adakala suka maupun duka.tak terasa kini telah berada di penghujung perpisahan persahabatan ini yang terpaksa harus terpisah untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi. kini Empat Kaki Meja tinggalah Aku, Rival dan Rana yang harus terpaksa berpisah demi menjalankan kehidupan yang lebih baik di sekolah baru tingkat SMA. berat rasanya aku harus berpisah dengan kalian semua, kalian telah memberikan pelajaran hidup yang berartibagi aku bagaimana menjalin persahabatan dengan baik.
Acara purna siswa akhir dan kenaikan kelas disenggarakan tepat hari ini, hari ini adalah hari yang begitu bahagia tak terasa aku sudah lulus dari bangku SMP, tapi disamping itu rasa sedihpun membanjiri dalam diri aku yang harus berpisah dengan sahabat Kaki Meja. aku tidak bisa membendung air mataku yang terus mengalir dipipiku dikala lagu perpisahan dinyanyikan oleh kelompok paduan suara kelas akhir.
Janji demi janji telah aku buat untuk tetap menjaga persahabatan ini walaupun kita berpisah jauh.kita jauh bukan berarti kita berpisah, bathin kita selalu menyatu dalam diri masing-masing untuk menjunjung tinggi persahabatan ini sampai akhir hayat nanti.
Empat kaki meja adalah sebuah cerita kenangan yang terukir dipondok modern yang dimana meja ini cacat yang hanya bisa berdiri dengan tiga kaki.satu kaki harus patah dan gugur dari solidaritas ini. dan kini tiga kaki mejapun tidak bisa lagi menopang meja persahabatan ini di pondok modern dan harus berpisah, tapi kami yakin kami berpisah suatu saat nanti kami akan kembali dalam tiga kaki meja dan kembali membangun empat kaki meja yang sempurna menyatukan kembali Aku, Rival, Rana dan Jodi, dan kami yakin semua ini akan indah pada waktunya. sekian.




Sory... Jangan Dianggap Serius .... Cuma karangan Fiksi Belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar