Empat kaki Meja Di Pondok Modern
Oleh: Muhamad Lutfi Ulinuha
Mahasiswa IAIN Surakarta, Komunikasi
Penyiaran Islam (KPI)
Tak terasa umurku menginjak 12 tahun, saatnya aku harus mengalami
masa peralihan dari bangku Sekolah Dasar (SD) ke sekolah jenjang yang lebih
tinggi setelah aku lulus dibangku SD nanti. keinginanku untuk masuk sekolah favorit
nampaknya terkuburlah
sudah karna tidak diberi ijin oleh kedua orang tua selama ini, beribu alasan
aku lontarkan kepada ke dua orang tua,
tapi tidak membuat ketetapan orang tua berubah. dari aku kecil orang tua
mempunyai keinginan anaknya untuk bisa belajar di suatu lembaga yang berbasis Islamic Boarding
School.mungkin sekarang saatnya aku harus bisa memenuhi keinginan ayah dan
ibu untuk masuk ke pondok modern walaupun ada sedikit keterpaksaan dalam hati.
Aku harus bisa melupakan harapan aku untuk masuk SMP favorit yang
harus digusur oleh keinginan orang tua yang memaksa aku untuk mausk ke pondok modern. dan.kini
saatnya aku harus mukim di pondok modern yang menurut aku ini adalah dunia baru
yang asing
yang hadir dalam kehidupan baruku, dimana aku harus belajar berkehidupan
mandiri yang selalu menjalankan aktifitas sendiri tanpa bantuan orang tua dan
siapapun.dari mulai makan, nyuci dan tidur sekalipun harus aku jalankan dengan
sendiri. tapi tidak apa-apalah walaupun jauh dari orang tua justru aku merasa
nyaman hidup di pondok modern sekarang karna mempunyai banyak teman yang selalu
menemani dan menghibur hidupku di pondok ini dengan setulus hati.
Walaupun aku sudah ikhlas dan menerima kenyataan hidup dipondok
tapi terasa hati ini merasa ada satu hal yang mengganjal.mungkin sifat anak
mamiku masih tersimpan saat ini sehingga rasa kangen dan rindu kepada orang
tuapun selalu membanjiri bayang-bayangku saat ini. terkadang aku suka
menyendiri diatas jemuran sembari menangis karna jauh dari orang tua, disinilah
Tuhan mengutus malaikat untuk menghibur aku yang sedang meratap menangis diatas
jemuran berupa hujud manusia yaitu Rival. diapun menghampiriku dan berkata
“kenapa kamu, ko malam-malam gini menyendiri di jemuran”, “aku sedih jauh dari
orang tua” jawab aku sambil mengelus-elus air mata di pipiku”, “ya, sudah
gimana kalau kita curhat dikamar ajah untuk menyelesaikan masalah ini. oh, yah
lupa. nama kamu siapa?...” tanya orang yang menghampiriku sembari mengulurkan
tangan kananya dihadapanku “nama aku Dika, dan nama kamu siapa?... “nama aku Rival ,aku juga santri baru loh sama seperti kamu”. disinilah rasa percaya diri
aku mulai tumbuh setelah mendapatkan teman baru yang bernama Rival, setelah Rival membujuk aku dari Jemuran Rivalipun membawa aku ke kamar untuk curhat
sekedar pendekatan. sehabis itu Rival juga mengenalkan aku dengan kedua temanya
yaitu Rana dan Jodi. dan bersyukurlah aku bisa mempunyai teman baru seperti Rival yang bisa melahirkan kepercayaan diri dalam hidup aku dipondok modern ini dan juga mengenalkan
dengan kedua temanya kepadaku supaya aku mempunyai banyak teman dan tidak
kesepian lagi.
Sekarang aku, Rival, Rana dan Jodi udah bisa menjalin hubungan
persahabatan erat yang penuh dengan solidaritas yang tinggi dimana terasa
seperti keluarga sendiri, persahabatan kitapun mempunyai sembohyan bagaikan
empat kaki meja yang tidak bisa dipisahkan sampai kapanpun dimana akan cacat
persahabatannya apabila ada satu orang yang pergi dari meja persahabatan ini.
solidaritas kita semakin terjalin erat selama duduk di bangku kelas 1 KMI pondok
modern, disinilah terjalin begitu amat kompak dalam hal kebaikan dalam
menjalankan kegiatan dipondok, kita selalu mengingatkan kepada salah satu
sahabat kita yang malas dalam hal kebaikan yang diantaranya kita selalu hadir
tepat waktu dimanapun dan kapanpun kegiatan rutinitas pondok dilaksanakan
seperti sekolah, sembahyang, mengaji dan lainya.sehingga akupun mempunyai
inisiatif bahwasanya persahabatan ini dinamai dengan nama empat kaki meja yang
selalu menjungjung erat meja persahabatan. sebelum kami meresmikan nama suci
ini kami bersumpah untuk selamanya menopang meja persahabatan ini sampai akhir
hayat nanti, dan berjanji pula jikalau kami tidak menjaga solidaritas ini maka
meja persahabatan ini tergoyang dan tidak sempurna, kendati demikianmeja tidak bisa berdiri dalam satu kaki, meja tidak bisa berdiri
dalam dua kaki dan meja hanya bisa berdiri dengan empat
kaki
Empat kaki meja terdiri dari empat orang yang masing-masing
mempunyai kepribadian tersendiri sebut saja Aku, teman-teman menilai aku adalah
orang yang paling malas diantara teman lainya sehingga karna kemalesanya aku
sering terkena hukuman pengurus setiap malemnya ketika pengikhoban (hukuman) yang
dilakukan oleh para mudhabir (pengurus), ketidak kompakanya aku dalam persahabatan membuat teman-teman
harus sabar menghadapi sikap aku yang kurang solidaritas di dalam persahabatan
ini, teman-teman takut jikalau meja ini hilang satu kaki sehingga meja
persahabatan ini berdiri dengan satu kaki. bersyukur teman-teman bisa ngertiin
aku yang mempunyai sifat egois ini. dalam diri aku juga mempunyai prinsip
bahwasanya teman itu adalah lebih dari segalanya dibandingkan yang lainya dan
akupun berpikir tidak boleh terus terus-terusan begini dan harus bisa merubah
sikap aku dan bisa ngertiin mereka.
Sosok pemersatu pilar Empat Kaki Meja yaitu Rival yang mempunyai
sosok religious diantara teman- teman lainya, sehingga dia selalu menjadi
pelopor pembangkit kami dikala kami selalu lengah dengan kegiatan dipondok ini.
diantara teman-teman yang lainnya Rival adalah sosok yang sempurna dan mempunyai
berbagai bakat yang tersimpan dalam dirinya
sampai-sampai berkat kepintaranya Rival selalu mendapatkan juara kelas setiap
tahunya.dialah Kaki Meja yang paling kuat dalam menopang persahabatan ini
solidaritasRival sangat tinggi sehingga pengorbanan dia sangatlah banyak untuk
persahabatan ini. Aku pernah dengar dia mempunyai prinsip bahwasanya “tanpa
teman aku hampa, dan berkat teman aku bisa” itulah yang dikatakan Rival sewaktu
curhat dijemuran pertama kali kenal dulu.
Teman aku yang ketiga yaitu Rana yang mempunyai sifat penghibur dan
sangat asyik orangnya.Rana selalu ceria disaat suka maupun duka bersama kami
berempat. karna keceriaan Rana akupun merasa enak dan terhibur disaat bersama
Rana. tidak bisa membayangkan aku mempunyai teman seperti rana yang bagi aku
Rana adalah sosok teman yang paling asyik yang pernah aku temui sepanjang hidup
aku.
Tidak lupa aku mempunyai sosok teman yang satu ini yaitu Jodi,
sedih rasanya disaat mendengar cerita hidup Jodi.ya Tuhan dia mempunyai
semangat tinggi untuk sekolah walaupun dia bukan orang yang terlahir dari
kalangan atas, aku tidak bisa membayangkan kehidupan Jodi yang jauh dari kata
cukup dari segi ekonominya, ayah Jodi hanya sebatas tukang becak yang
penghasilanya terkadang tidak mencukupi untuk biaya Jodi juga keluarganya.yang
membuat hati ini menaangis yaitu ketika mendengar cerita ibu Jodi yang terkena
penyakit struk yang tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa terdiam diatas
ranjang, ibu Jodi sudah lama terkena struk yang menyerang kakinya, pernah ibu
Jodi sesekali dirawat di Rumah Sakit. tapi hal itu tak kunjung sembuh juga dan akhirnya
karna keterbatasan biaya ibu Jodi hanya bisa dirawat dirumah. ya Tuhan berilah
Jodi kesabaran untuk menjalankan hidupnya dipondok ini. Aku salut sama ayah
Jodi yang mempunyai semangat hidup tinggi yang mempunyai cita-cita ingin
mensekolahkan Jodi setinggi mungkin, sampai-sampai ayah Jodi rela menjual rumah
satu-satunya demi mensekolahkan Jodi di pondok modern dan sekarang ayah dan ibu
Jodi tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir rel kereta.
Terkadang Jodi mengeluh dengan keadaan ekonomi keluarganya, dia
juga merasa malu sama teman-teman dipondok yang terkadang ada ajah yang membuli Jodi
sebagai anak miskin, kamipun merasa sakit hati melihat Jodi sebagai sahabat
sendiri di lecehkan sama teman-teman dengan perkataan miskin. kami selalu
memberi semangat pada Jodi supaya tetap sabar menghadapi semua cobaan ini.
Jodi tidak kuat terus-terusan begini yang hidupnya selalu di hina
dan hina oleh teman-temanya, seketika Jodi selalu menyendiri dan jarang
keliatan gabung bersama kami, dia mempunyai pikiran “orang tuaku boleh miskin
tapi hidup aku dipondok ini tidak boleh kelihatan miskin” dengan mempunyai
pikiran seperti itu jodipun bertindak hal-hal yang dilarang oleh agama juga
undang-undang yaitu mencuri. semenjak Jodi selalu dihina oleh teman-temanya
Jodi selalu bertindak mencuri uang teman-teman asramanya, tindakan Jodi tidak
satu kali, dua kali dia lakukan bahkan berkali-kali Jodi melakukan hal yang dilarang
itu supaya Jodi kelihatan seperti orang kaya didepan teman-temanya dari hasil
uang curian itu (ghosob).kamipun merasa aneh dengan kelakuan Jodi yang
seperti itu dan tidak seperti biasanya, kami curiga dengan kebiasaan Jodi
berkelakuan mewah selama ini bahkan kami selalu di teraktir makan sama Jodi
padahal kami tau Jodi itu orang yang tidak punya dari segi ekonomi untuk
mentraktir kami bertiga. aku adalah orang yang paling curiga sama tindakan Jodi
selama ini dan sewaktu ketika ada anak yang kehilangan uangnya yang disimpan
didalam lemarinya akhirnya kami mencurigai bahwasanya Jodi yang mengambil uang
anak itu. kami tidak bisa membiarkan Jodi terus-terusan bertindak seperti ini. dengan
sedih hati kami melaporkan tindakan Jodi kepada pengurus, Jodi langsung
disidang oleh pengurus dan dilaporkan kepada Bapak Pengasuh. Bapak Pengasuh
memutuskan untuk memanggil orang tua Jodi yang datang yaitu bapaknya menghadap
Bapak Pengasuh.keputusan Bapak Pengasuh dihadapan Jodi dan ayahnya memutuskan
bahwasanya Jodi dikeluarkan dari pondok ini. ayah Jodi tidak menerima kenyataan
ini dan menampar muka Jodi “ayah tidak nyangka kamu seperti ini. inget nak,
semiskin-miskinya kita. ayah masih mampu membiayai kamu sekolah dipondok ini.
jerih payah ayah bekerja untuk membiayai kamu tapi kamu telah mengecewakan
ayah, ayah kecewa sama kamu”.
kami tidak nyangka dengan kenyataan ini yang harus kehilangan satu
sahabat kaki meja, kami langsung berlali untuk memeluk Jodi didetik-detik
terakakhir ini. “maafkan aku teman-teman yang harus pergi meninggalkan kalian
semua, aku pulang dengan tidak hormat teman. aku tidak bisa menjalankan sumpah
kita dulu yang akan selalu menopang meja persahabatan ini, aku tidak nyangka
aku seperti ini yang akan jauh dari kalian. aku pesan untuk kalian walaupun
kini meja persahabatan kita tinggal tiga kaki meja tapi aku yakin meja ini bisa
berdiri kokoh dengan solidaritas kalian” kata Jodi dalam tangisanya, “walaupun
kamu jauh dari kami, kami akan selalu menganggap kamu sebagai anggota empat
kaki meja ini dan tidak akan melupakanmu selamanya” jawab kami sambil memeluk
erat Jodi dikala perpisahan terakhirnya.
Kini meja persahabatan ini harus berdiri dengan tiga kaki.dahulu
meja ini berdiri dengan empat kaki yang sempurna sekarang meja persahabatan ini
patah satu kaki dan harus berdiri cacat dengan tiga kaki. mampukah meja ini
berdiri dengan tiga kaki ?....
Tidak terasa tiga tahun telah kita lalui bersama dipondok ini,
kenangan dan kebersamaan telah kita lalui bersama adakala suka maupun duka.tak
terasa kini telah berada di penghujung perpisahan persahabatan ini yang
terpaksa harus terpisah untuk melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi.
kini Empat Kaki Meja tinggalah Aku, Rival dan Rana yang harus terpaksa berpisah
demi menjalankan kehidupan yang lebih baik di sekolah baru tingkat SMA. berat
rasanya aku harus berpisah dengan kalian semua, kalian telah memberikan
pelajaran hidup yang berartibagi aku bagaimana menjalin persahabatan dengan
baik.
Acara purna siswa akhir dan kenaikan kelas disenggarakan tepat hari
ini, hari ini adalah hari yang begitu bahagia tak terasa aku sudah lulus dari
bangku SMP, tapi disamping itu rasa sedihpun membanjiri dalam diri aku yang
harus berpisah dengan sahabat Kaki Meja. aku tidak bisa membendung air mataku
yang terus mengalir dipipiku dikala lagu perpisahan dinyanyikan oleh kelompok
paduan suara kelas akhir.
Janji demi janji telah aku buat untuk tetap menjaga persahabatan
ini walaupun kita berpisah jauh.kita jauh bukan berarti kita berpisah, bathin
kita selalu menyatu dalam diri masing-masing untuk menjunjung tinggi
persahabatan ini sampai akhir hayat nanti.
Empat kaki meja adalah sebuah cerita kenangan yang terukir dipondok
modern yang dimana meja ini cacat yang hanya bisa berdiri dengan tiga kaki.satu
kaki harus patah dan gugur dari solidaritas ini. dan kini tiga kaki mejapun
tidak bisa lagi menopang meja persahabatan ini di pondok modern dan harus
berpisah, tapi kami yakin kami berpisah suatu saat nanti kami akan kembali
dalam tiga kaki meja dan kembali membangun empat kaki meja yang sempurna
menyatukan kembali Aku, Rival, Rana dan Jodi, dan kami yakin semua ini akan
indah pada waktunya. sekian.
Sory... Jangan Dianggap Serius .... Cuma karangan Fiksi Belaka.